2.8
Manipulasi Porselen
1. Proses
pencampuran porselen.
Untuk
pencampuran serbuk porselen digunakan air destilasi yang mempunyai kekentalan
yang rendah dan tekanan permukaan yang sangat tinggi. Air destilasi ini
merupakan perantara yang efisien dalam pencampuran partikel porselen untuk
menghasilkan massa yang homogeny. Serbuk porselen diaduk dengan spatula kering
kemudian ditambahkan air destilasi (Syafiar, 2012).
2.
Pemadatan /
Compaction
Ada 3
macam serbuk porselen yg digunakan:
a.
Opaque Shade
(lapisan opaque)
Untuk
menutup warna jaringan di bawahnya, warna buram
b.
Dentin Shade
(lapisan untuk dentin atau body)
Lebih
translusen dari pada opaque shade, menentukan warna dan bentuk restorasi
c.
Enamel Shade
Membentuk
bagian luar mahkota, translusen warna bisa disesuaikan dengan gigi asli.
Tujuan :
a.
Agar
bahan dapat dibentuk sesuai dengan yang dikehendaki
b.
Agar
air yang terkandung di dalam masa dapat dikeluarkan sebanyak mungkin. Pada
pembakaran akan terjadi pengerutan volumetrik sebesar 30 sampai 40% lebih
banyak air yang dikeluarkan, lebih kecil pengerutan terjadi.
Cara
:
1. Menabur
bubuk pada permukaan yang basah. Ini menimbulkan reaksi kapiler sehingga
membantu menarik air dari masa.
2. Kelebihan
air dapat dikeringkan dengan kertas hisap setiap kali setelah menekannya atau
setelah menyapunya dengan kuas
3. Dapat
dilakukan penggetaran atau vibrasi agar partikel bubuk tersusun lebih rapat.
Keberhasilan dari tahap ini tergantung tidak hanya
dari keahlian operator, tapi juga pada ukuran partikel bubuk.
3. Pembakaran
(Firing)
Pembakaran dilakukan pada tungku
listrik. Elemen pemanasnya dapat terbuat dari :
a. Alloy
Ni-Cr untuk pembakaran porselen low fushing
b. Platinum
atau Alloy Platinum, apabila dibutuhkan suhu lebih tinggi
Hal
yang perlu diperhatikan :
a. Porselen
yang telah dipadatkan diletakkan di atas piring pembakaran (terbuat dari
keramik tahan bakar) dan tidak boleh berkontak dengan dinding tungku. Bila
porselen melekat padanya, elemen pemanas akan rapuh.
b. Pembakaran
dimulai dari panas yang rendah, kalau tidak air akan menguap demikian cepat
sehingga dapat meremukkan bagian porselen yang belum terbakar.
c. Dibutuhkan
pemanasan yang merata. Porselen memiliki sifat penghantar panas yang rendah,
maka dibutuhkan pemanas secara perlahan agar diperoleh cukup waktu bagi lapisan
sebelah dalam restorasi untuk menjadi panas.
d. Mula
mula jendela tungku dibiarkan terbuka agar uap air dan hasil pembakaran bahan
pengikat lainnya dapat keluar.
Ada 3 tahapan :
a. Tahap low bisque atau low bscuit, tahap ketika bahan menjadi sedikit kaku dan
fluxe mulai mengalir.
b. Tahap medium bisque atau medium bisquit, ketika telah
terjadi sedikit pengerutan dan terdapat kohesi yang lebih besar antara
partikel.
c. Tahap high bisque (high biscuit), pada tahap ini tidak
ada lagi terjadi pengerutan.
4. Glazing
Keramik di glazing untuk menghasilkan permukaan yang
licin dan berkilat menjaga agar sisa sisa makanan tidak melekat. Glazing
dilakukan dengan cara memoles dengan kit pemoles porselen. Permukaaan yang
lebih halus akan mengurangi kerusakan akibat abrasi gigi atau restorasi gigi
antagonis. Glazing juga efektif dalam mengurangi perkembangan retak dan
menutupi porus yang terjadi saat pembakaran.
5. Pendinginan
Harus dilakukan secara perlahan dan merata kalau
tidak akan terjadi derajat pengerutan yang berbeda pada bagian bagian restorasi
keramik yang cenderung mendorong terbentuknya stress dan menimbulkan retak
sehingga mengurangi kekuatan.
2.9
Faktor Penyebab Kegagalan Manipulasi
Beberapa
faktor yang mempengaruhi proses pemadatan partikel ini antara lain:
a.
Volume porositas powder
Jumlahpenyusutanberkaitan
denganporositastotalporselen. Pemadatanyang terjadi harus lebih besar
untukmengurangijumlahpenyusutan.
b.
Tegangan permukaan
Pemadatan partikelakanlebih baik jikaairdihilangkan olehtegangan permukaan. Tegangan
permukaanefektifhanya jikaporselenselalutetaplembabselamapenumpukan.suhu ruanganyang
tinggi dansuasana
keringyangharus dihindari.
Dalam
proses kondensasi metode yang digunakan dapat digunakan dapat diklasifikasikan
atas 5 metode yaitu:
a. Metode
brush application
b. Metode
gravitation
c. Metode
spatulation
d. Metode
Whipping
e. Metode
vibration
1.
Proses pembakaran porselen
Tahapan pembakaran
porselen13:
a)
Tahap low bisque atau low biscuit, tahap ketika bahan
menjadi sedikit kaku dan fluxe mulai mengalir
b)
Tahap medium bisque atau medium biscuit ketika telah
terjadi sedikit pengerutandan terdapat kohesi yang lebih besar antara partikel
c)
Tahap high bisque (high biscuit) , pada tahap ini tidak
ada lagi terjadi pengerutan.
2. Proses
pendinginan porselen
Porselen
yang telah selesai dibakar, dikeluarkan dari alat pembakaran dan dibiarkan di
udara terbuka sampai porselen menjadi dingin. Pendinginanharus
dilakukansecara bertahapdan perlahan-lahan.Hal ini untuk memungkinkanterjadinya
ekspansidan
kontraksiyang seragamsehingga mencegahperambatan retak. Proses pendinginan yang baik akan
menambah strength daripada porselen, sebaliknya pendinginan yang tiba-tiba akan
menambah stress dan mengurangi kekuatan porselen.
2.10
Kelebihan dan Kekurangan Porselen
a. Kelebihan
1. Estetika
tinggi karena ada
pigmen, sehingga warna
bisa disesuaikan dengan warna gigi.
2. Tidak
terpengaruh cairan rongga mulut
3. Kekuatan
dan kekerasan baik
4. Biokompatibel
5. Tidak
iritatif
6. Tahan
lama
7. Insulator
panas yang baik
8. Stabil
terhadap pengaruh kontraksi dan ekspansi
9. Permukaan
halus sehingga mencegah perlekatan plak dan mengurangi insidensi karies
b. Kekurangan
1. Harganya
mahal
2. Porositas
tinggi
3. Mudah
rapuh
4. Sukar
diasah
5. Kekerasan
terhadap fraktur rendah
6. Diskolorisasi
pada tepi porselen
7. Pada
gigi sulung sulit karena ruang pulpa masih tinggi/lebar
8. Bunyi
kliking bila kontak dengan gigi antagonis
9. Over/under
restorasi → pecah saat pembuatan, susah diasah/tidak bisa dikurangi sendiri.
2.11
Indikasi dan Kontra Indikasi Porselen
a.
Indikasi
1. Restorasi
kelas I dan II pada pasien yang mengutamakan estetis
2. Pada karies gigi yang besar atau kegagalan restorasi
sebelumnya
3. Keadaan
sosial ekonomi pasien memungkinkan
4. Gigi
anterior patah
5. Menutup
stain
6. Diskolorisasi
7. Tekanan
kunyah normal
b.
Kontra Indikasi
1. Karies
banyak
2. Tekanan
oklusal besar
3. Pasien
dengan kebiasaan buruk seperti bruxism atau clenching
4. Pasien
usia muda dengan ruang pulpa masih lebar
5. Pasien
maloklusi (porselen dapat pecah apabila terkena tekanan)
6. Mahkota
Klinis terlalu pendek (retensi kurang)
7. Preparasi
konikal/mengerucut (tidak ada pegangan dan retensi)
1.
Jacket Crow / Mahkota Jaket
Untuk restorasi gigi yang sudah rusak, yang
merupakan akibat dari karies yang parah, fraktur, abrasi, pertumbuhan yang
tidak sempurna atau gigi yang sudah berubah warna yang diikuti devitalisasi
(Craig, 2002).
Juga untuk memperbaikai lengkung gigi yang tidak
bagus, seperti gigi yang mengalami rotasi, diastema, palatoversi, labioversi,
crowned ringan serta erupsi gigi yang tidak sempurna dan semua ini berada pada
oklusi lingual (Craig, 2002).
2.
Veneer Crown
Merupakan restorasi yang tahan lama serta dari segi
estetisnya baik, biarpun preparasi harus dilakukan masih konservatif bila
dibandingkan dengan pembuatan mahkota penuh konvensional (Craig, 2002).
Veneer crown
diindikasikan untuk gigi yang mengalami fraktur pada sebagian mahkota, karies
yang besar khususnya bila melibatkan sudut insisal gigi anterior, kavitas
permukaan labial yang besar, dan pit yang hipoplastik (Craig, 2002).
3.
Mahkota Logam Keramik

4.
Inlay
Biasanya dipakai pada gigi anterior karena restorasi
untuk gigi anterior harus mempertimbangkan estetis. Bila kavitas sudah cukup
besar porselen inlay yang digunakan sebaiknya yang mengandung silikat semen
karena dapat melindungi kontur dari mahkota gigi alami, dan sedikit kemungkinan
untuk pecah atau retak serta tidak larut dalam saliva (Craig, 2002).
5.Gigi
Tiruan Sebagian Cekat/ Bridge
Suatu protesa cekat pendukung gigi yang dibuat untuk
memperbaiki fungsi dari satu atau lebih kehilangan gigi posterior atau fungsi
dan estetis dari satu atau lebih gigi anterior (Craig, 2002).
"catatan :
dental porcelain bab 2 gooo : http://dentalporcelain.blogspot.com/2015/04/dental-porcelain.html
pembahasan biomat bab 4 : http://makalahbiomat.blogspot.com/2015/04/bab-iv-pembahasan-biomat.html
biomat bab 2 lanjutan : http://makalahbiomat.blogspot.com/2015/04((/lanjutan-bab-ii-2.html
temporo mandibulator join : http://gangguantmj.blogspot.com/2015/04/temporo-mandibular-joint.html
glomerulonefritis: http://urinariaphyllanthus.blogspot.com/2015/04/glomerulonefritis.html
terimakasih. ini memudahkan untuk mencari referensi
ReplyDelete